Senin, 03 November 2025

๐—๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ฎ๐—ป ๐—•๐—ถ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ด “๐—ฆ๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป ๐—”๐—ท๐—ฎ ๐——๐˜‚๐—น๐˜‚”

Saat melihat orang lain mendapat kenikmatan dan kemegahan dunia, rumah indah, rezeki lapang, atau kehidupan yang tenang, kadang hati tergerak,

ingin juga suatu saat merasakan hal yang sama.
Lalu tanpa sadar kita berkata,

“๐—ฆ๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐˜๐—ถ๐—ป ๐—ฎ๐—ท๐—ฎ ๐—ฑ๐˜‚๐—น๐˜‚, ๐—ฏ๐—ถ๐—ฎ๐—ฟ ๐—ธ๐—ฒ๐—ฏ๐—ฎ๐—ด๐—ถ๐—ฎ๐—ป ๐—ท๐˜‚๐—ด๐—ฎ.”

Namun Rasulullah ๏ทบ mengajarkan adab yang indah. Beliau tidak menyuruh kita berkata “shalawatin aja dulu”, melainkan mengajarkan doa yang penuh keberkahan:

ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจَุงุฑِูƒْ ู„َู‡ُ ูِูŠู‡ِ
“๐’€๐’‚ ๐‘จ๐’๐’๐’‚๐’‰, ๐’ƒ๐’†๐’“๐’Œ๐’‚๐’‰๐’Š๐’๐’‚๐’‰ ๐’…๐’Š๐’‚ ๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ (๐’๐’Š๐’Œ๐’Ž๐’‚๐’•) ๐’Š๐’•๐’–.”
๐Ÿ“– (๐‘ฏ๐‘น. ๐‘จ๐’‰๐’Ž๐’‚๐’…, ๐‘ด๐’‚๐’๐’Š๐’Œ, ๐‘ฐ๐’ƒ๐’๐’– ๐‘ด๐’‚๐’‹๐’‚๐’‰ — ๐’”๐’‰๐’‚๐’‰๐’Š๐’‰)

Doa ini bukan hanya untuknya, tapi juga menjadi wasilah agar Allah menganugerahkan kebaikan yang serupa atau lebih baik ke


pada kita. ๐ŸŒท

Jangan asal ucapkan shalawat demi untuk kenikmatan dunia, Rasulullah ๏ทบ tidak mengajarkan kita berharap banyak pada dunia tapi berpikir long lasting journey "negeri akhirat" dan kenikmatan disana lebih kekal dan abadi.

Kalau kata seorang teman berkata : "๐—ง๐—ฒ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—น๐˜‚ ๐—ฟ๐—ฒ๐—ป๐—ฑ๐—ฎ๐—ต ๐—บ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—บ๐—ฝ๐—ฎ๐˜๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐˜€๐—ต๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐˜„๐—ฎ๐˜ ๐—ต๐—ฎ๐—ป๐˜†๐—ฎ ๐˜‚๐—ป๐˜๐˜‚๐—ธ ๐˜‚๐—ฟ๐˜‚๐˜€๐—ฎ๐—ป ๐—ฑ๐˜‚๐—ป๐—ถ๐—ฎ ๐˜€๐—ฎ๐—ท๐—ฎ"

ูˆَุงู„ู„ّٰู‡ُ ุฃَุนْู„َู…ُ ุจِุงู„ุตَّูˆَุงุจِ

#kisahjibaqoe #catatanjibaqoe

Senin, 29 September 2025

Kepangan Rambut dari Abah

Perdana, September 2025

Ada satu kenangan kecil yang selalu menempel erat dalam ingatanku setiap kali bercermin. Kenangan tentang rambut panjangku ketika duduk di bangku SMP. Rambut hitam yang terurai sampai punggung itu, dulu sering menjadi “permainan” tangan abahku.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, aku akan duduk di kursi kayu dekat jendela. Di sebelahku, abah dengan sabar membagi rambutku menjadi dua, lalu mulai mengepang perlahan. Tangannya tidak seluwes mama, tapi selalu berhati-hati, seakan setiap helai rambutku adalah sesuatu yang rapuh. Kadang hasil kepangannya agak longgar, dan beberapa helai rambut nakal akan keluar, membuatku tampak berantakan. Aku sering bercermin dan menghela napas kecil, merasa kurang puas.

Mama, sebaliknya, selalu punya cara membuatku merasa cantik dengan kepangan rapi. Beliau suka membuat “kepang seribu”, penuh detail, sehingga rambutku tampak indah dan tertata. Namun, mama jarang sempat melakukannya. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk bersiap, mengenakan seragam PNS, merapikan berkas, lalu berangkat kerja lebih cepat dari siapa pun di rumah.Sementara abah, yang bekerja sebagai kontraktor di sebuah CV, punya lebih banyak waktu di rumah jika tidak sedang ada proyek di luar kota. Mungkin karena itulah, tugasku setiap pagi hampir selalu jatuh ke tangannya: mengikat rambut anak gadisnya.

Aku memang lebih menyukai hasil tangan mama, tapi di balik kepangan sederhana abah, ada sesuatu yang lain. Ada kesabaran. Ada ketelitian yang ia pelajari tanpa suara. Dan ada cinta, meski tidak terucap, yang terasa dalam setiap simpul kepangannya.

Kini, setiap kali aku mengingat masa itu, aku tersenyum sendiri. Kepangan abah mungkin tidak pernah serapi mama, tapi justru karena itulah aku mengingatnya. Kepangan sederhana yang menjadi tanda sayang seorang ayah pada anak perempuannya—dengan cara yang paling sunyi, tapi paling nyata.


Rabu, 24 September 2025

Menjadi Ibu Rumah Tangga: Lelah yang Bernilai Ibadah

Sering kali kita mendengar ungkapan “menjadi ibu rumah tangga itu melelahkan.” Namun sejatinya, yang membuat lelah bukanlah pekerjaan rumah itu sendiri, melainkan pikiran yang terus menerus merasa terbebani. Ketika seorang istri menyadari bahwa setiap langkah, setiap sapuan sapu, setiap masakan yang ia hidangkan, bahkan setiap tetesan keringat yang keluar, semuanya dinilai sebagai ibadah oleh Allah Azza wa Jalla, maka rasa capek itu akan berubah menjadi ketenangan dan harapan pahala.

1. Rumah Tangga adalah Ladang Pahala

Allah berfirman:

> “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Segala amal yang diniatkan untuk Allah menjadi ibadah, termasuk mengurus rumah, mendidik anak, melayani suami, dan menjaga kehormatan keluarga. Nabi ๏ทบ bersabda:

> “Sungguh engkau tidaklah memberi nafkah (atau pelayanan) kepada keluargamu melainkan itu bernilai sedekah.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Artinya, pekerjaan rumah tangga yang sering dianggap remeh—menyapu, mencuci, menyiapkan makanan—hakikatnya adalah amal shalih jika diniatkan ikhlas karena Allah.


2. Lelah yang Sejati: Bukan pada Badan, tetapi Pikiran

Banyak ibu rumah tangga yang bukan hanya menghadapi pekerjaan fisik, tetapi juga beban batin:

• Tinggal berjauhan dari suami (LDM).

• Harus mengurus segalanya seorang diri.

• Ditambah tuntutan ekonomi atau pekerjaan tambahan.


Di sinilah sering kali mental seorang istri terasa begitu rapuh, “setipis tisu,” terutama ketika memasuki usia kepala tiga, di mana beban sosial dan emosional semakin menumpuk.

Allah mengingatkan kita:

> “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

(QS. Al-Baqarah: 286)

Ayat ini meneguhkan bahwa segala yang kita jalani sudah diukur oleh Allah sesuai kekuatan kita.


3. Teladan dari Para Sahabiyyah

Para sahabiyyah juga mengalami lelah, tetapi mereka menanggungnya dengan sabar dan ridha:

• Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha: beliau membantu suaminya, Az-Zubair bin Awwam, dengan pekerjaan rumah yang berat, seperti membawa biji kurma di atas kepalanya dari kebun yang jaraknya jauh. Namun beliau tetap bersabar karena meyakini semua itu bernilai ibadah.


•• Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha: beliau mendidik anaknya, Anas bin Malik, untuk melayani Nabi ๏ทบ sejak kecil, dengan kesabaran dan keteguhan hati, meski harus mengurus rumah tangga seorang diri.


••• Fatimah az-Zahra radhiyallahu ‘anha: putri Nabi ๏ทบ yang tangannya kapalan karena menggiling gandum untuk keluarga. Meski lelah, beliau tetap melakukannya dengan sabar hingga akhirnya Nabi ๏ทบ mengajarkan dzikir sebagai penolong agar hati lebih kuat daripada hanya mengandalkan tenaga.


4. Ketenangan Bagi Istri

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

> “Sesungguhnya Allah mencintai amal yang dilakukan terus menerus walaupun sedikit.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Pekerjaan rumah tangga memang berulang, namun justru di situlah ladang pahala tanpa putus.

Setiap kali seorang ibu rumah tangga merasa lelah, ingatlah bahwa:

•• Itu bukan sekadar pekerjaan, melainkan ibadah.

•• Itu bukan sekadar rutinitas, melainkan sedekah yang dicatat oleh malaikat.

•• Itu bukan sekadar tanggung jawab, melainkan jalan menuju ridha Allah dan surga.

---


Penutup

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah hal yang ringan. Namun dengan niat yang lurus, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap lelah bernilai ibadah, maka pekerjaan yang tampak kecil di mata manusia akan menjadi besar di sisi Allah.

> “Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

(QS. Ath-Thalaq: 4)




Maka, mari belajar dari para sahabiyyah yang tabah, kuat, dan sabar. Karena hakikatnya, capek itu di pikiran, tapi di hati yang ikhlas, semua terasa ringan.

Selasa, 16 September 2025

Guru Mulia, Murid Dimuliakan

Tidak sepantasnya seorang pengajar Al-Qur’an merendahkan atau mencela muridnya, apalagi terkait umur.

Dalam Islam, belajar Al-Qur’an itu tidak mengenal batas usia. Rasulullah ๏ทบ bersabda:

> "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Hadis ini tidak membedakan tua atau muda, lambat atau cepat, asal ada niat ikhlas dan kesungguhan.

Mencela murid hanya karena umur bisa:

• Mematahkan semangat belajar.

• Bertentangan dengan adab guru.

• Menghalangi murid dari pahala besar dalam mendekatkan diri kepada Allah lewat Al-Qur’an.

Yang semestinya, seorang pengajar Al-Qur’an membimbing dengan kasih sayang, kesabaran, dan doa, sebab Allah memuliakan siapa pun yang berusaha mendekat kepada-Nya, meski baru mulai di usia lanjut.

Ada beberapa contoh dari sahabat Rasulullah ๏ทบ yang di usia lanjut tetap bersemangat belajar Al-Qur’an dan agama:

1. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu

Beliau masuk Islam di usia sekitar 30-an menuju 40 tahun. Setelah itu baru mulai mempelajari Al-Qur’an secara serius, hingga akhirnya menjadi salah satu sahabat yang paling kuat hafalan dan pemahamannya.

2. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Masuk Islam di tahun ke-7 Hijriyah (sekitar umur 30-an lebih), lalu rajin belajar langsung dari Rasulullah ๏ทบ. Dalam waktu yang tidak panjang, beliau menjadi sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadis, karena kesungguhan belajar di usia yang bukan muda lagi.

3. Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu

Beliau masuk Islam dalam usia yang sudah tua, setelah bertahun-tahun mencari kebenaran. Meskipun begitu, semangatnya mempelajari Al-Qur’an dan agama membuatnya menjadi salah satu sahabat yang sangat mulia.

4. Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu

Seorang alim dari kalangan Yahudi, masuk Islam di usia tua, lalu belajar dan berpegang teguh pada Al-Qur’an. Rasulullah ๏ทบ bahkan memberi kesaksian bahwa beliau termasuk ahli surga.

๐Ÿ‘‰ Ini menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk belajar Al-Qur’an. Justru, siapa pun yang datang dengan hati ikhlas akan dimuliakan Allah.



Sabtu, 16 Maret 2013

STOP PELECEHAN SEKSUAL DI TEMPAT KERJA



Sampit, 16 Maret 2013
Pukul 08.57 WIB

PEREMPUAN. Kenapa disini PEREMPUAN saya tulis dengan huruf besar dan bercetak tebal serta bergaris bawah? Ada alasannya, perempuan adalah makhluk yang rumit dan susah dimengerti. Perempuan tidak pernah mengatakan apa yang diinginkannya secara langsung, tapi menuntut orang untuk mengerti makna tersirat dari apa yang diutarakannya. Perempuan makhluk ‘halus’ yang perlu dijaga. Dalam ketegaran, semangat dan senyumnya ada kerapuhan. Ya.. perempuan makhluk yang paling rapuh, meskipun ada yang berprofesi sebagai atlet tinju seperti Salsabilla. Masih banyak perempuan perkasa di dunia ini, tapi TETAP SAJA PEREMPUAN MAKHLUK PALING RAPUH SEDUNIA.

Kehormatan seorang perempuan adalah harga dirinya, apalagi berada diluar rumah seperti di kantor. Ketika seorang perempuan berada diluar rumah, dia akan selalu berhati-hati agar tidak terjadi sesuatu yang menimpanya apalagi dalam hal pelecehan seksual. Hal ini sangat tidak diinginkan, tapi hal tersebut kadang tanpa kita inginkan bisa saja terjadi.

STOP PELECEHAN SEKSUAL SEKARANG JUGA!

Pelecehan seksual pada pekerja perempuan banyak terjadi dimana-mana. Dilingkungan tempat bekerja sering terjadi dikalangan para pekerja perempuannya, baik itu dalam bentuk verbal maupun non-verbal.

Pelecehan seksual ditempat kerja dapat diartikan sebagai segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran. Tindakan lain yang mencakup rentang pelecehan seksual meliputi main mata, siulan nakal, komentar berkonotasi seks atau gender, humor porno, cubitan, colekan, tepukan atau sentuhan di bagian tubuh tertentu, gerakan tertentu atau isyarat yang bersifat seksual.

Sakit hati, sedih, ingin teriak, malu, marah, semua perasaan berkecamuk bila kita mengalami pelecehan seksual seperti diatas bukan???? Tetapi sangat disayangkan reaksi  terhadap kasus pelecehan seksual umumnya korban lebih banyak diam, karena mereka takut dipecat apabila mengadu atau ada sebagian perempuan yang menganggap hal tersebut biasa dilakukan (ASTAGHFIRULLAH).

Perempuan, ingatlah bahwa kita bukanlah makhluk selamanya lemah, kita bisa mencegahnya. Apabila terjadi beri tindakan pada si pelaku, JANGAN DIAMMMMMMM.

Selasa, 03 Juli 2012

my story ((F.U.T.U.R))


Ketika aku harus dihadapkan pada hal yang selama ini tidak pernah kubayangkan sebelumnya......
Ketika aku harus kuat diantara berjuta kelemahanku.
Ketika aku menyadari betapa diri ini mudah berubah dalam sekejap
Pagi ke siang, siang ke sore, sore ke petang, petang ke malam.....betapa dhoif dan munafiknya diri ini.
Tuhan.........aku hanya manusia yang mudah berubah lagi dalam sekejap
Tuhan........aku ingin selalu bersama Engkau
Tapi kenapa hawa nafsu lebih menjadi raja?
Prasangkaku selama ini “Engkau tidak menyayangi aku lagi”
Tapi ternyata prasangka itu salah, buktinya aku masih Engkau beri kesempatan untuk bernafas di pagi hari.
Oh Tuhan......ketika aku mulai lelah, apakah Engkau berusaha meraih tanganku?
Bukan...bukan...bukannya hamba egois, tapi hamba ingin meraih cinta itu.
Cinta? Ya cinta....hanya saja hamba galau ya Allah......
Jodohku sudah tertulis dengan indah di kitab lauh mahfudzMu, tapi aku mengambilnya dengan jalan yang salah.
Hati kecil ini berteriak “Sha itu SALAH!!!!!”
Andai saja sebelum aku beranjak pergi meninggalkan tanah hidayah itu ada yang datang kepadaku ya Allah......hahahaha kembali aku egoissssssssssssssssssssssssssssssssss.....ingin menangis? Percuma!!!!
Kukembalikan semuanya padaMu ya Allah.....diri ini yakin, apapun yang terjadi atas kehendakMu. Yang menjalani semua adalah diri ini.
Dosa besar?????? Ahhhhhh
Aku menjadi muak dengan orang2 yang semulanya berkata “Ingin cepat menikah” tapi kenyataannya hanya omong kosong belaka, mana bukti dari perkataanmu wahai manusia berjenggot????????????????
Aku kecewa? Tidak! Aku tidak kecewa, bahkan aku salut dengan komitmen kalian semua. Hanya saja ketika aku menanti kalian tidak datang!!!!
Aku futur? Ya aku sedang merasakan kefuturan yang mengganas.....jadi kenapa ha?
Menasehati? Tidak usah!!!!! Aku yang menjalani semuanya. Terimakasih sudah mengingatkan


_Sisi Buruk Hati Ruang Kehampaan, 4 Juli 2012_

Senin, 02 Juli 2012

Palestina ohhh....I'm Terry!

tulisan lama yang sempat publish di wordpressku yang dah expired ^^

kupost lagi di blog ini ^^ 

selamat membaca yaaaaaaaaaaaaa

________________________________________________________________________________


duarrrr.......aku dikegetkan dengan suara tembakan dan bom dari mesiu tentara Israel.
ya Rabb...lindungilah hambaMu ini dari bangsa kera terkutuk ini. tiba-tiba bala api
semangat jihad muncul di dadaku, hah...apa gunanya aku disini kalau hanya diam meringkuk dalam ketakutan.
anak-anak kecil diluar sana dengan gagah berani melontarkan batu intifadhah mereka, ya hanya batu senjata
anak-anak kecil itu. sedangkan aku hanya duduk diam meringkuk di tempat persembunyianku. sudah hampir 20 hari Israel terkutuk mengempur Gaza,
hampir 20 hari itu juga bayang-bayang kematian mulai mendekatiku perlahan. ahh...sha kamu begitu pengecut, kamu betul-betul seperti kucing.
padahal kamu punya taring dan cakar yang tidak kalah tajam dengan anjing, kenapa kamu hanya sembunyi? kenapa kamu hanya diam? kenapa kamu
seperti pura-pura tidak tahu, padahal kamu tahu. sha....mana semangatmu ketika waktu turun aksi kamu rela berhujan-hujan dan basah kuyup
 berkoar-koar "Bebaskan Palestina, hancurkan Yahudi" mana sha? mana? bicaranya saja kamu sha. ya Rabb kenapa aku bisa sampai kesini? mana teman-temanku
yang lain? mana mayda? asni? akhwat dan ikhwan yang lain mana? kenapa aku ditinggalkan sendiri di Gaza? kenapa? mamaaaaa.......

tret...tret...tret...duuuarrrrr...Allahu Akbar para umahat tidak kalah tangguhnya melawan brondongan senjata besi Israel terkutuk, mereka melempar gajah
besi tentara Israel dengan batu. para umahat ikut berjuang membela dan mempertahankan tanah mereka, tanah suci yang banyak melahirkan nabi-nabi dan rasul.
"tanah suci pertama ummat muslim harus dipertahankan dari rampasan bangsa kera, Allahu Akbar!" umahat itu seperti seorang syahba yang membabi
buta menebas para musuhnya. aku takjub melihat ketangguhannya. airmataku menetes, aku jadi teringat akhwat-akhwat Santika. mereka membuat
 barisan tersendiri untuk mengamankan aksi yang kami lakukan. mereka dilapis pertama barisan yang selalu bersiap siaga menahan musuh yang
tiba-tiba menyerang. kami yang diamankan dengan tenang melakukan aksi, berkoar-koar dan meneriakkan "Palestina!". tapi kenapa sekarang mereka tidak ada?
 kenapa tidak ada mereka? aku menghela nafas panjang, tangisku semakin menjadi-jadi. aku sendirian....

hhhhh....aku tertunduk, pikiranku melayang. mataku langsung menangkap sebuah batu yang teronggok di dekat kakiku. "batu?" aku membatin.
 kuambil batu kecil itu dan kutimang-timang sambil melihat keluar. "awas ummu!" reflek aku berteriak. ya Allah umahat yang dari tadi
kulihat dengan gagah berani melempari tentara israel dengan batu kini jatuh bersimbah darah. peluru kera telah merobek jantungnya,
dadanya terkena tembakan tentara israel. dari kejauhan kulihat seorang anak berlari sambil berteriak "Ummi! ummi!" anak itu berlari
 mendekati ibunya yang sudah hampir tak bernyawa, sambil memegangi dadanya yang tertembak umahat itu rubuh ke tanah. "Ummi!!!"
ya Rabb hamba ingin kesana...hamba ingin menolong umahat itu dan melanjutkan perjuangannya. aku berdiri, entah kenapa tiba-tiba aku marah,
aku sedih, aku geram. astagfirullah...terkutuk kau Israel! terutuk! kulihat anak kecil itu memeluk ibunya yang sekarat. tangan halus ibunya
yang berlumura darah mengusap pipi anaknya, tersenyum. dan seolah-olah kudengar umahat itu berkata
    "Nak teruskan perjuanganmu, usir mereka dari Al Quds, selamatkan Pa..les...ti...na. ashadu alla illa ha illaulah wa ashadu anna muhammaddar rasulullah."
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun umahat itu kini meregang nyawa, wajahnya tampak tersenyum, cantik. anak kecil itu menangis dan menguncang tubuh ibunya
yang kini ruhnya telah kembali kepada zat yang maha sempurna. terbang bersama hembusan angin dan berkumpul dengan para syuhada. amarahku muncul...
airmataku menjadi-jadi, aku bangkit dan berlari keluar sambil membawa batu kecil ditanganku.
 "Allahu Akbar!" kulempar tank tentara yahudi dan seolah-olah ada kekuatan besar di dalam batu kecil yang kulempar. batu kecil itu tiba-tiba
 menghancurkan tank raksasa milik Israel terkutuk, aku terpana melihat tank-tank yang hancur itu dan tiba-tiba.....ahhh...kenapa mata ini gelap?
 kurasakan perih sekali...ahhhh...darah? kenapa ada darah? aku? akhirnya aku syahid di jalanMu  ya Allah....aku menyusul umahat tadi. tapi...........gubrakkkkkkk,
aduh. sakit, lho kok? astagfirullah ternyata aku hanya bermimpi. aku kejedot tempat tidur, kulihat disampingku ada Asni yang masih tidur. aku bangkit,
eh...di atas tempat tidur ada mayda yang masih tertidur pulas juga. mereka mimpi apa ya? apa sama denganku yang memimpikan Palestina?
sayup-sayup terdengar suara adzan subuh dari kejauhan. sudah subuh to? hhhhhh...ternyata hanya mimpi aku pergi berjuang di Palestina.
kupanjatkan doa pada Allah, mensyukuri nikmat tidur panjangku dan sudah memberikanku mimpi terindah yang insya Allah akan menjadi kenyataan.
entah kapan itu akan terlaksana, yang pasti seandainya aku bisa memilih dan dilahirkan kembali, aku akan memilih dilahirkan pada rahim
 seorang ibu yang berada di Palestina. wahai ummat muslim sedunia Al Quds memanggilmu, Al Aqsha menantimu, Palestina.......


Kamis, 8 Januari 2009/ 11 Muharam 1430
Sahabat 501
06.03 wita
Makassar