Senin, 29 September 2025

Kepangan Rambut dari Abah

Perdana, September 2025

Ada satu kenangan kecil yang selalu menempel erat dalam ingatanku setiap kali bercermin. Kenangan tentang rambut panjangku ketika duduk di bangku SMP. Rambut hitam yang terurai sampai punggung itu, dulu sering menjadi “permainan” tangan abahku.

Setiap pagi, sebelum berangkat sekolah, aku akan duduk di kursi kayu dekat jendela. Di sebelahku, abah dengan sabar membagi rambutku menjadi dua, lalu mulai mengepang perlahan. Tangannya tidak seluwes mama, tapi selalu berhati-hati, seakan setiap helai rambutku adalah sesuatu yang rapuh. Kadang hasil kepangannya agak longgar, dan beberapa helai rambut nakal akan keluar, membuatku tampak berantakan. Aku sering bercermin dan menghela napas kecil, merasa kurang puas.

Mama, sebaliknya, selalu punya cara membuatku merasa cantik dengan kepangan rapi. Beliau suka membuat “kepang seribu”, penuh detail, sehingga rambutku tampak indah dan tertata. Namun, mama jarang sempat melakukannya. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk bersiap, mengenakan seragam PNS, merapikan berkas, lalu berangkat kerja lebih cepat dari siapa pun di rumah.Sementara abah, yang bekerja sebagai kontraktor di sebuah CV, punya lebih banyak waktu di rumah jika tidak sedang ada proyek di luar kota. Mungkin karena itulah, tugasku setiap pagi hampir selalu jatuh ke tangannya: mengikat rambut anak gadisnya.

Aku memang lebih menyukai hasil tangan mama, tapi di balik kepangan sederhana abah, ada sesuatu yang lain. Ada kesabaran. Ada ketelitian yang ia pelajari tanpa suara. Dan ada cinta, meski tidak terucap, yang terasa dalam setiap simpul kepangannya.

Kini, setiap kali aku mengingat masa itu, aku tersenyum sendiri. Kepangan abah mungkin tidak pernah serapi mama, tapi justru karena itulah aku mengingatnya. Kepangan sederhana yang menjadi tanda sayang seorang ayah pada anak perempuannya—dengan cara yang paling sunyi, tapi paling nyata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

sapa yukkk